Jumat malam, 27 Des 2008, Mbak Cipi yang mendengar informasi kalau janin Ayska terbelit tali pusar langsung menelpon dengan nada panik. “Kenapa belum masuk rumah sakit? Udah ditanyakan ke dokter dampak belitan tali pusar itu? Aman ga bagi bayi? Melahirkan dengan cara cesar itu bukan berarti tidak bisa menjadi ibu yang baik lho….”

Rekam Detak Jantung

Rekam Detak Jantung

Nada pertanyaan itu akhirnya merisaukan saya. Sebagai bapaknya Ayska, saya memang santai-santai saja hingga malam itu karena dokter juga santai saja ketika menyampaikan adanya belitan tali pusar pada leher ayska. “Masih normal saja, nanti tetap akan diupayakan lahir normal, kalau tak ada pembukaan atau kontraksi, akan kita induksi….paling lambat hari Minggu (28 Des 2008) harus masuk rumah sakit ya,” begitu kata dokter yang menangani Ayska.

Karent itu, saya tenang saja dan menunggu tanggal 28 Des karena memang hingga Jumat 27 Des tak ada tanda-tanda kontraksi. Ibunya Ayska juga santai-santai saja. Jumat pagi, kami sempat jalan pagi yang memakan waktu hingga 1,5 jam, ini merupakan jalan pagi kami yang paling jauuuuuuuhhh selama ini. Katanya, dengan jalan pagi akan memudahkan kelahiran dan kontraksi. Gak tahu deh ilmiahnya gimana.

Telpon dari Mbak Cipi malam itu membuat saya ikut gusar. Maka, saya segera pulang, menanyakan kepada istri apa yang dirasakan. Tak ada yg dirasakan ternyata. Tak ada kontraksi. Tapi, malam itu saya tidur dengan gusar.

Sabtu siang, 27 Des 2008, kami memutuskan kontrol ke dokter untuk melihat pasokan air ketuban bayi apa cukup gak. Soalnya, Sabtu ini sudah memasuki minggu ke-40.

Dokter bilang, setelah minggu ke-40 memang sudah masuk ‘gawat janin’. Saya telp kakak saya, Tri Nafaroh, bidan yang cukup ternama di Pekalongan, untuk menanyakan soal gawat janin ini. “Kalau di Pekalongan, dokter-dokter masih berani menunggu janin hingga minggu ke-42, dokter yang moderat memakai patokan sampai minggu ke-41, jadi kalau masih minggu ke-40 masih aman sebenarnya,” katanya.

Persoalannya, saya meragukan semua perhitungan baik perhitungan istri, perhitungan dokter, maupun perhitungan saya sendiri hehehehhe….semua beda. So, jalan tengahnya ya sudahlah kita ikut perhitungan dokter.

DETAK JANTUNG TINGGI

Setelah periksa rutin, dokter menyarankan untuk rekam jantung janin. “Kalau belum mau masuk ke rs hari minggu, paling lambat Senin ya,” begitu kata dokter.

Maka, sore itu hanya untuk rekam jantung saja. Dari sinilah horor psikologis dimulai….

Rekam jantung dilakukan di ruang yang biasa digunakan untuk melahirkan. Jadi, kami dicampur dengan orang-orang yang mau melahirkan. Suara teriakan, bacaan istighfar dari ibu-ibu yang mau berjuang melahirkan, rintihan ibu yang sedang mengalami pembukaan, membahana di mana-mana di sekitar kami. Waduh, jelas ini tidak baik buat psikologis ibunya Ayska.

Hasil rekam jantung pun mengejutkan. Detak jantung Ayska berkisar pada angka 180. Itu berarti, nafas Ayska di dalam kandungan sana benar-benar ngos-ngosan. Suasana hati kami pun jadi panik.

Hasil rekam jantung itu kemudian dikonsultasikan suster ke dokter. Dokter menyarankan untuk test ulang dan harus ada upaya menurunkan detak jantung Ayska. Maka, ibunya ayska pun diberi oksigen dan juga infus cairan elektrolit. Juga diberi makan dan minum cukup.

Pagi harinya, ibunya Ayska memang hanya makan tiga sendok nasi doank. Minumnya juga sedikit. Kemungkinan faktor inilah yang membuat janin ngos-ngosoan. tapi, anaisis lain: jangan-jangan air ketubannya sudah tidak cukup lagi, atau jangan-jangan belitan tali pusar itu membuat dia susah untuk mengabsorbsi makanan?????? Kami tak punya akses ke dokter langsung untuk menanyakan kondiri Ayska..jadi kami hanya menebak-nebak saja…..sungguh sebuah horor psikologis……

Saya menelpon kakak saya yang bidan itu. “Kalau sudah punya riwayat jantung seperti itu, coba konsultasikan ke dokter gimana baiknya agar ibu dan anaknya selamat. Kalau menurut saya, kalau janin sudah punya riwayat jantung seperti itu, jika diinduksi pasti nanti bayi akan stress dan detak jantung bisa tidak beraturan lagi….., jadi kalau dokter menyarankan cesar, ya kemungkinan itu jalan yang terbaik,” kata kakak saya.

Dokter di rs sari asih menyarankan untuk test detak jantung lagi. Tunggu 2 jam lagi, nanti akan dilihat detak jantungnya sudah bagus atau belum. Kalau bagus, maka induksi kemungkinan bisa dilakukan. Untuk bisa induksi, detak jantung bayi harus bagus dan menunjukkan aktifitas normal yang responsif. Ini ditandai dengan grafik rekam jantung yang naik turun seperti gunung-gunung.

Setelah dua jam, test pun dimulai. Alhamdulillah, detak jantung janin sudah turun..pada kisaran 130-140. Tapi persoalannya, untuk meyakinkan dokter bahwa bayi itu responsif dan aktif, grafiknya juga harus ada yang naik yg menunjukkan aktifitas bayi.

“Wah bayinya tidur ya bu, ayo dibangunin biar grafikya bagus,” kata suster. Suster pun juga berusaha membangunkan bayi dengan menekan-nekan perut ibunya Ayska. Saya pun ikut-ikutan membantu membangunkan Ayska. Tapi tetap gagal…grafik tetap flat di kisaran 130-140..ini tak biasa dengan Ayska karena sepekan sebelumnya grafiknya bagus.

Lewat suster, dokter pun minta test diulang. Nunggu 2 jam lagi untuk melihat pergerakan bayi, siapa tahu sudah bangun.

Di saat menunggu itulah, di kamar sebelah kami yang dibatasi dengan kain, seorang ibu yang mau melahirkan, sudah pembukaan satu, kehilangan bayinya. Keputusan kalau bayinya sudah tidak ada itu didengar langsung oleh istri saya.

Isak tangis terdengar jelas dari tempat kami karena cuman dibatasi kain. Istri saya tampak ikut larut dalam kesedihan. “Kasihan bayinya sudah tidak ada,” kata istri saya, ikut merasakan betapa pedihnya kehilangan bayi.

Soal meninggalnya bayi di kamar sebelam kami itu sebenarnya ada cerita tersendiri yang tak sengaja kami dengar. Tapi, cerita itu tak layak disampaikan di sini. Hanya, kami menyesalkan kenapa hanya untuk rekam jantung bayi saja kami harus dicampur dengan mereka yang memang sudah siap melahirkan? Kami sebenarnya datang ke rs hanya untuk kontrol rutin dan belum mau masuk ke rs untuk melahirkan.

Psikologis ibunya Ayska jadi down. Konon kata istri saya, dari pelajaran ibu sebelah yang kehilangan bayinya itu, istri saya sudah bertekad apa pun yang terjadi, apa pun yang direkomendasikan dokter, akan dia terima asalkan bayi saya selamat.

Pelajaran penting: jika Anda sedang kontrol dan belum siap mau melahirkan, jangan mau dicampur dengan ibu-ibu yang sudah mau melahirkan hanya untuk rekam jantung.

Setelah dua jam menunggu, untuk ketiga kalinya dilakukan test rekam jantung lagi. Kali ini, sudah mulai ada tanjakan grafis naik, namun tetap didominasi grafik datar di kisaran 130-140. Artinya, grafik ini tidak menggembirakan.

Maka, kami pun memutuskan sendiri untuk tetap di RS untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan.

Malam itu tetap menjadi horor bagi kami karena kami harus memutuskan apakah bayi akan dilhirkan normal atau cesar. Wajah ibunya Ayska semakin pucat, bibirnya putih. Saya tahu, ini karena dampak berabgai tekanan horor psikologis yang kami alami di kamar rekam jantung itu.

Kami pun pindah ke ruang observasi dan sudah resmi inap di rs.

Dokter menjanjikan akan menemui kami pukul 22.00. Namun sampai pukul 24.00 dokter pun belum bisa mampir ke tempat kami karena masih sibuk dengan pasien lain. Kami mengerti karena di ruang bersalin sudah menunggu pasien-pasien lain.

Pukul 02.00, itu artinya sudah masuk hari minggu 28 desember, dokter datang dan meminta ibunya ayska diperiksa di kamar bersalin. Dari pemeriksaaan itu, ternyata belum juga ada pembukaan padahal sudah lewat 40 minggu.

“Kita operasi saja, cesar,” begitu keputusan dokter.

Mendengar keputusan itu, saya pun tak kaget dan juga tak berkomentar apa-apa. Saya pun diminta menandatangani form operasi cesar untuk istri saya.

Saya berfikir, bisa jadi inilah jalan terbaik buat istri dan bayi kami. Istri saya juga sudah siap jika memang diputuskan cesar. Dampak dari kamar horor sebelumnya itu memang membuat istri saya lebih mementingkan keselamatan bayi daripada memikirkan takutnya dioperasi.

Faktor yang membuat kami mantap untuk cesar adalah adanya belitan tali pusar, tak adanya kontraksi yang dialami ibunya Ayska, dan juga pengalaman-pengalaman teman-teman yang pernah diinduksi.

Teman saya, doe, yang baru saja melahirkan empat bulan lalu, menyarankan kepada saya, “Jangan pernah mau diinduksi, sakit banget, selain sakit buat ibunya juga bayinya stress. Habis itu, induksi tak menjamin berhasil,” katanya.

Doe memang pernah diinduksi dan pada pembukaan ke-5 bayi tetap tak mau turun karena kakinya terbelit tali pusar. Akhirnya, doe pun menempuh cesar.

Operasi akan dimulai pukul 08.00. Dua simbahnya Ayska, yaitu simbah Balikpapan dan simbah Ciledug, juga saya, was-was menanti di luar ruang operasi.

Saat operasi berlangsung, di lantai satu rs sari asih ciledug berlangsung renovasi. Suaranya gaduh menggema hingga lantai lima. Banyak pasien yang merasa terganggu. Ini membuat saya untuk inisiatif protes ke manajemen. Protes saya diterima dengan baik oleh menajemen dan manajemen berusaha mencari mandor yang menangani renovasi. Saya pun kembali ke ruang tunggu operasi, tapi janji mau menghentikan atau memelankan suara gaduh renovasi itu cuman janji semata. Operasi tetap berjalan dengan diiringi dentuman penghancuran tembok di lantai satu.
Sebelum operas, suster bilang: operasi berlangsung satu jam, kemudian dua jam setelah itu ibu ayska akan menjalani penghangatan badan selama dua jam. Prosedur itu disampaikan dengan baik ke kami.

Di ruang tunggu, simbah dari balikpapan nangis sesenggukan…menanmbah suasana makin tegang….saya hanya bisa berdoa…simbah dari ciledug tampak lebih tegar….

Satu jam setelah masuk operasi, suster memanggil kami. Katanya, saya sudah bisa melihat bayi.

Deg-degan….suasana hati saya begitu kacau antara cemas, senang, penuh tanda tanya, dan tak tahu apa lagi……

Begitu membuka pintu ruang menuju kamar operasi, Subhanalllah………saya melihat seorang bayi dengan balutan bedong pink…..warna kulit bersih jernih memancarkan warna pink…matanya sudah membuka plirak-plirik, lidahnya melet-melet keluar…seperti kehausan, lidah yg melet-melet ini pernah saya lihat pada tes USG ketika masih dalam kandungan.

“Anaknya perempuan Pak, cantik,” begitu suster yang mengantar bayi Ayska. Ayska dibawa dengan alat seperti inkubator. Saya pun langsung lemas, gembira, spontan meneteskan air mata….Alhamdulillah ya Allah Engkau telah menganugerahkan puteri yang cantik bagi kami…” kegembiraan hari itu tak pernah bisa saya lukiskan…kegembiraan yang bercampur dengan kecemasan…..terus ibunya gimana suster????

“Ibunya sehat,” kata suster. Lega…..drama horos psikologs satu malam sebelumnya terbayar sudah dengan lahirnya Ayska yang sehat. Ibunya pun juga sehat.

Di perjumpaan pertama dengan anak saya itu, terasa aneh dan membanggakan….ternnyata saya sudah jadi bapak. Mengharukan, makhluk kecil itu luar biasa membuat jantung saya seolah berhenti berdetak….inilah “ayat-ayat Allah” yang begitu nyata….ya anak-anak kita adalah ayat-ayat Allah yang hidup……anugerah indah dari Yang Maha Kuasa…..begitu hebat ayat-ayat Allah itu memukau saya….

(bersambung…..)