Archive for January, 2009
Ulang Bulan Ayska
Tak terasa, Ayska udah satu bulan heheheheee…..udah naik 1 kg lebih beratnya….hmm pipinya itu lho…..
Kenapa memilih Cesar?
Jumat malam, 27 Des 2008, Mbak Cipi yang mendengar informasi kalau janin Ayska terbelit tali pusar langsung menelpon dengan nada panik. “Kenapa belum masuk rumah sakit? Udah ditanyakan ke dokter dampak belitan tali pusar itu? Aman ga bagi bayi? Melahirkan dengan cara cesar itu bukan berarti tidak bisa menjadi ibu yang baik lho….”
Kontrol pertama Ayska dan ibunya
Selasa, 6 Jan 2009, Ayska dan ibunya kontrol untuk pertama kalinya usai melahirkan di RS Sari Asih Ciledug. Ditemani simbah dari Balikpapan, seperti sebelumnya Ayska tenang-tenang saja tak menangis.
Pusar Ayska sudah pupak
Rabu 7 Jan 2009, pusar Ayska sudah pupak, alias puput…apa lagi ya istilahnya….Berarti sekitar 7 hari usia Ayska pusarnya sudah puput. Ada bayi yang puput pada usia tiga hari, lima hari, tujuh hari, bahkan sebulan. Jadi memang bervariasi.
Kuning pada bayi Ayska
Hari kedua kelahiran Ayska, tampak pada muka dan kaki Ayska berwarna kekuning-kuningan, juga pada mata Ayska memancarkan warna kuning. Kuning pada bayi ini pertama kali disampaikan oleh suster RS Sari Asih Ciledug. “Banyakin kasih ASI nya ya Bu, soalnya Dedek kulitnya warna kuning, tanda kurang cairan,” begitu kata Suster.
Beberapa hari setelahnya, kuning pada Ayska masih terlihat walau sudah berkurang. Untuk langkah amannya, saya meminta anak saya ditest darah. Maka, Ayska pun ditest darahnya. “Jauh sana Bu, jangan liatin ya nanti gak tega,” kata suster yang mau mengambil sample darah Ayska.
Beberapa jam kemudian, test darah Ayska sudah ada hasilnya. Tes billirubin namanya, untuk mengetahui kadar billirubin (maaf kalau salah ya, belum baca2 lagi soal billirubin nih). Kata suster, seperti manusia umumnya, setelah sel darah merah menyelesaikan tugasnya maka sel darah merah ini akan hancur. Pada bayi, hancurnya sel darah merah tak langsung bisa diatasi oleh hati karena fungsi hati belum maksimal.
Kadar billirubin Ayska 13,5 persen, masih normal sebenarnya tapi sudah termasuk tinggi. Kata suster, kadar normal pada 20 (satuannya apa ya? belum cek lagi hehehe). Kalau sudah kadar 20, bayi harus segera diatasi dokter. Jika sampai angka 20, kuning pada bayi sudah masuk level bahaya. Karena itu, jika bayi Anda berwarna kuning, terutama pada matanya juga ikut kuning, segeralah periksakan ke dokter, jangan dianggap remeh.
Untuk kadar 13,5, Ayska hanya mendapat puyer untuk diminumkan? Hah? bayi harus minum puyer? Sampai di rumah, untung ada kakak yang dari Pekalongan, seorang bidan, Tri Nafaroh namanya, yang akhirnya menangani pemberian puyer ini.
Ternyata, puyer itu hanya dikasih air sedikit sehingga membentuk bubur, kemudian disendoki dimasukkan ke mulut Ayska….nyam…nyam…nyam…di luar dugaan, Ayska sangat menyukainya….puyer ini merupakan makanan non-ASI pertama yang pernah dimakan Ayska.
Selain diberi puyer, setiap pagi antara pukul 07.00 sd 08.00, Ayska dijemur di bawah panas matahari yang hangat. Setelah satu minggu, kuning pada Ayska telah hilang. Alhamdulillah….
Makanan favorit ibuku: daun katu!
Dalam masa-masa menyusui aku, ibuku harus bisa memberi air ASI yang tidak haya higienis tapi juga harus full. Maka, untuk mendukung produksi air ASI yang memadai, salah satu makanan favorit ibuku adalah sayur daun katu.
Apa musik klasik benar-benar membantu?
Banyak yang percaya, musik klasih membantu pertumbuhan otak balita. Mitos atau fakta? (tulisan belum selesai nih, masih test)